RSS

Arsip Tag: sejarah

Bacaan dan Kedewasaan

8733hb

    Aku sekarang ini tidak suka membaca buku-buku fiksi. Well, kurasa sepuluh tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk bosan pada sesuatu. Seperti halnya genre bacaan. Sejak kecil aku sangat suka membaca. Buku-buku pertamaku selain buku pelajaran sekolah adalah novel. Puncaknya adalah kelas 2 SMP hingga 1 SMA. Beragam genre novel dari roman sejarah sampai roman picisan, dari fiksi dongeng sampai fiksi ilmiah, dari chicklit, teenlit, sampai yang Islami, termasuk juga manga, manhwa dan komik. Dari sekian banyak buku bacaan itu, yang paling kusukai dan tak pernah bosan adalah buku-buku sejarah. Dari sekian banyak buku sejarah yang paling kusukai adalah sirah Nabawiyah dan sejarah generasi awal Islam dan yang paling tidak kusukai adalah sejarah manusia purba. Really, I absolutely doubt the theory of prehistoric people. Read the rest of this entry »
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2012 in Umum

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Memories #1: Surat

    Membongkar buku-buku lama ternyata mengingatkanku pada masa-masa yang telah berlalu. Buku-buku sejak SD hingga kuliah, masing-masing menyimpan kenangan dan sejarah, hingga aku tak pernah rela jika satu dari mereka hendak ‘dikilokan’ alias dijual di tukang loak. Hari ini di antara tumpukan saksi sejarah itu kutemukan kertas warna-warni itu. Lembar-lembar surat dari adik-adik yang pernah kudampingi dalam masa orientasi dan inisiasi kampus atau sering disebut Ospek. Pink adalah warna untuk 2009 dan kuning adalah warna mereka dari 2010.

    Aku sudah hampir lupa dengan isi surat-surat itu. Ketika kubaca lagi satu demi satu, ada buncahan rasa yang hadir menyeruak: haru, lucu, sendu, dan… rindu. Ah, mereka kini sudah melangkah bersama pilihan mereka masing-masing. Bangga, ketika kutahu sebagian besar mereka aktif di organisasi, menjadi petinggi, dan berprestasi…

    Di setiap surat itu ada ucapan terima kasih, dengan gaya ciri khas mereka masing-masing.

    Aku tersenyum mengingat masa-masa itu. Jadi ingat bagaimana mendampingi mereka yang ribut membuat tugas, potong ini itu, menggambar berbagai pola, menghafal lagu-lagu serta gerakan tarimya, sampai pusingnya mengajari beberapa dari mereka password yang dibuat dalam bahasa Jawa 3 bait dengan kata-kata yang ruwet.


    Masih ingat juga waktu harus pasang tampang garang saat mengingatkan mereka shalat. Haha, masih jelas juga peristiwa ektrem di salah satu pagi beberapa tahun silam, ketika jam setengah 5 pagi diperintahkan harus standby di kampus dan ternyata sampai kampus portal belum dibuka. Nekat akhirnya mengendarai motor naik ke trotoar lalu menyisip ke celah-celah pangkal portal.

    Really, those were unforgettable moments.

    Masih ingatkah kalian dengan masa-masa itu, wahai:

    Samudera Pasai: Novita, Mayang, Devi, Almas, Yani, Marwah, Rachmat, Erie, Aryo, Iboy, Vano, Arief, Khresna, Steven, dan partner pemanduku Handishna Hasfi, serta

    Kalbe Farma: Mita, Gita, Lisa, Nida, Eni, Ninggar, Anto’, Udin, Anas, Nanang, Nidzar, Andi, dan partnerku Edo.

    Selamat berjuang, adik-adik kebangganku: Samudera Pasai dan Kalbe Farma!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Oktober 2012 in Umum

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Begini Seharusnya Muslim

    Pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Basya Al-Qanuni, Sultan Turki, pernah diiklankan lowongan kerja untuk menjadi seorang imam Masjid Istambul. Syarat-syarat yang dicantumkan dalam iklan tersebut adalah:

    1. Menguasai bahasa Arab, Latin, Turki, dan Persia
    2. Menguasai Al-Qur’an, Injil, dan Taurat
    3. Menguasai Ilmu Syariat
    4. Menguasai Ilmu Alam, Matematika, dan mampu mengajarkannya
    5. Pandai menunggang kuda, bermain pedang, dan berperang
    6. Berpenampilan menarik
    7. Bersuara indah.

    Inilah format iklan untuk jabatan imam masjid, pada kurang lebih 400 tahun lalu. Kita mencatat bahwa syarat-syarat yang dicantumkan dalam iklan tersebut —walaupun sangat sulit, bahkan mustahil dipenuhi untuk ukuran sekarang— kala itu merupakan syarat yang biasa dan wajar. Islam ketika itu tengah mencapai masa puncak kejayaannya. Tak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum; tidak ada pemisahan antara ulama dan mujahid.

    Dalam catatan sejarah ini terlihat bahwa jabatan imam masjid adalah jabatan prestisius karena peranan yang harus dimainkan sangat penting dalam penyebaran dakwah. Bila masyarakat Islam kita umpamakan dengan satu tubuh, maka sel tubuh pertama yang menjadi inti kehidupannya adalah masjid. Perhatian kaum muslimin terhadap masjid selalu ada sepanjang sejarah keemasan Islam. Kekuatan ruhani yang terpancar dari masjid itulah kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan inilah yang membentuk akal dan perasaan mereka sepanjang masa.

    (dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku “Bagaimana Menyentuh Hati” karya Abbas As-Siisi, versi terjemahan dari “Ath-Thariq ila Al-Quluub” )

    __________________________________________________________
    Iseng menyalin catatan Facebook lama 😀

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2012 in Islam

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Menengok “Mentoring” Tempoh Doeloe

    “Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatthab, beliau mengirim para sahabat dalam berbagai ekspedisi untuk menyebarkan Islam melalui pengajaran Al Qur’an. Abu ad­ Darda’ tinggal di Damaskus beberapa waktu lamanya dan dapat membuat halaqah yang sangat masyhur dengan mahasiswa asuhannya melebihi 1.600 orang. Dengan membagi murid-murid ke dalam sepuluh kelompok, ia menugaskan seorang instruktur secara terpisah pada tiap kelompok dan melakukan inspeksi keliling dalam memantau kemajuan mereka. Bagi mereka yang telah lulus tingkat dasar, dapat mengikuti bimbingan langsung beliau agar murid yang lebih tinggi tingkatnya merasa lebih terhormat belajar bersama Abu ad-Darda’ dan berfungsi sebagai guru tingkat menengah.

    Metode yang sama dipraktikkan di tempat lain, Abu Raja’ al-Ataradi menyatakan bahwa Abu Musa al-Ash’ari membagikan murid-murid ke beberapa kelompok di dalam Masjid Basra, dalam bimbingannya yang hampir mencapai 300 orang.

    Di ibu kota, `Umar mengutus Yazid bin ‘Abdullah bin Qusait untuk mengajar AI-Qur’an di kalangan orang Badui, dan melantik Abu Sufyan sebagai inspektur untuk suku mereka agar mengetahui sejauh mana mereka sudah belajar.”

    Keren ya! Tidak heran jika kemudian Islam mampu memayungi hampir 2/3 dunia dan bersinar saat Eropa mengalami Zaman Kegelapan. Yuk, bergabung dengan MLM pahala yang murni syariah ini… caranya gimana? Membina!

    (Kisah di atas dikutip dengan penyesuaian yang diperlukan dari Sejarah Teks Al Quran, terjemahan dari The History of The Qur’anic Text karya Prof. Dr. M.M. al A’zami)

    _______________________________________________
    Iseng menyalin catatan Facebook yang pernah kubuat 🙂

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2012 in Islam

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,