RSS

Arsip Tag: saudara

Memories #4: Semanggi (Best Friends, Best Sisters)

Semanggi Diary

Saat menulis ini, hujan sedang turun dengan derasnya. Alhamdulillah, setelah seharian didera panas yang menguras keringat Allah memberikan berkah kesejukan melalui air langit ini.

Entah kenapa, hujan selalu mengingatkanku pada tiga orang teman terbaikku. Mereka bukan sekedar teman, tapi mereka adalah saudaraku. Ohya, circle kami ini secara sepihak kunamai Semanggi. Kenapa semanggi? Karena aku suka filosofinya dan karena kami berjumlah empat orang. Well, semanggi pada umumnya punya tiga helai daun, yang masing-masingnya melambangkan kepercayaan, harapan, dan cinta. Secara utuh, semangi berdaun tiga melambangkan kebahagiaan. Sedangkan semanggi berdaun empat melambangkan keberuntungan karena ia hanya bisa ditemukan satu di antara seribu. Kupikir itu benar-benar cocok untuk menggambarkan persaudaraan kami berempat.

Kami tak saling mengenal saat pertama kali menjejakkan kaki di kampus tercinta. Dua orang dari tanah Borneo, seorang dari dataran tinggi karst DIY, dan aku sendiri dari salah satu perbatasan Jawa Tengah. Pertemuan kami secara utuh berempat adalah melalui sebuah majelis ilmu yang disebut AAI. Saat pertama kali bertemu, “tak pernah mengira bahwa kita akan sedekat ini”, seperti tulis seorang dari kami di kemudian hari. Dari situ kami semakin sering dipertemukan. “Subhanallah ya, kita bertemu di forum-forum untuk mengingat Allah,” tulis saudariku yang lainnya. Waktu bergulir hingga akhirnya mengamanahkan kami berlabuh di organisasi yang berbeda, dua orang di JMME FEB dan dua orang di SEF UGM. Walaupun pada kenyataannya kami berempat sering beraktivitas bersama mengingat kedekatan kedua organisasi tersebut, dan karena bagaimanapun juga kami tetap merupakan anggota JMME hingga kami lulus dari FEB.

Ah, kembali lagi ke topik hujan. Hujan itu membawa kembali kenangan-kenangan yang kulalui bersama mereka, baik kenangan bahagia maupun yang sedih. Berapa kali kami berlomba dengan hujan untuk sampai di tempat makan? Berapa kali kami harus bergulat dengan hujan untuk mencapai lokasi kegiatan? Atau ketika bersama-sama hunting buku di bookfair saat gerimis menjelang? Ah, atau ketika hujan menjadi saksi saat aku mengantarkan kepergian salah satu saudariku untuk kembali ke tanah seberang? Hujan… pernah kutuliskan juga tentangnya di buku harian salah satu dari mereka.

Buku harian adalah kenangan yang lain tentang mereka. Kami berempat pernah punya buku harian bersama, namun baru beberapa kali berputar, ia hilang dan baru diketemukan sejenak sebelum kami berpisah beberapa bulan silam. Walau demikian, kurang dari dua bulan sebelum perpisahan itu datang, kami menghidupkan kembali program buku harian bersama. Jika dulu satu buku dipakai untuk empat orang, kali ini kami punya buku masing-masing. Buku itu saling dipertukarkan di antara kami. Masih adakah buku harian milik kalian, saudariku? Aku masih menyimpan milikku dan berharap suatu saat kukirimkan pada kalian untuk menagih cerita yang kalian simpan.

Sekarang kita menjalani kehidupan di tempat yang berbeda, bersama orang-orang yang berbeda pula. Namun, semoga Allah mengabulkan doa kita dulu: semoga kita dipertemukan kembali di surga-Nya.

Untuk menutup tulisan ini, kutuliskan lagu favoritku untuk kalian.

    Thank you ~ Bokutachi kara kimi e ~

Thank you ~ From us to you

    by Hey!Say!Jump

Sayonara wo suru mae ni
Before we bid goodbye
Bokutachi kara kimi e
From us to you
Kansha no kimochi ni ma gokoro wo komete
From the bottom of our hearts, we’d like to send
Todoketai yo, kono uta
These feelings of gratefulness, through this song

Kyou, kimi to bokutachi wa
Today, you and us
Ikutsu yume wo mita darou
How many dreams you’ve seen?
Kazu kazu no bamen irunna omoi de
I have many settings, and many thoughts
Zenbu hikari kagayaku with you
All of them will shine with you

Kitto minna no egao ya kizuna ga
Surely, everyone’s smile and this bond
Asu kara no hagemi ni naru yo
Will become tomorrow’s courage

Say goodbye kyou no hi no minna ni
Say goodbye to your today’s sun
Wakare wa mata au yakusokusa
Farewell is a promise that we’ll meet again
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
The moment when our heart become one
Kasareru tabi ni ai ga umareru
On this long journey, love was born

Say goodbye mata tsugu aerukara
Say goodbye and we’ll meet again
Wakare wa kimi omou jikan sa
Farewell is the time when I think about you
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Our hearts will always be one
Bokutachi wa tsunagari au
We are all connected to each other

Thank you for your love

Yume no tsuzuki wa taeru koto naku
Keep dreaming is a thing that must always continue
Doko made datte afurete ikuyo
Even when you go nowhere

Say goodbye kyou no hi no minna ni
Say good bye to your today’s sun
Wakare wa mata au yakusokusa
Farewell is a promise that we’ll meet again
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
The moments when our heart become one
Kasareru tabi ni ai ga umareru
On the long journey, love was born

Say goodbye mata tsugu aerukara
Say goodbye, and we’ll meet again
Wakare wa kimi omou jikan sa
Farewell is the time when I think about you
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Our hearts will always be one
Bokutachi wa tsunagari au
We all are connected to each other

Thank you for your love

(lyric credit to denisaroseno.blogspot.com)

________________________________________________________________
Dedicated to my Semanggi sisters 🙂

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Oktober 2013 in Baiti Jannati

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Muslim Itu Harus Oportunis (Urgensi Membina versi “Egois”)

    Setelah beberapa tahun lalu menulis tentang urgensi membina untuk memenuhi tugas, sekarang rasanya ingin menceritakan pengalaman pribadi saja. Kalau bicara pada tataran ideal, sudah jelas bahwa membina merupakan tuntunan Rasulullah SAW. Namun, manusia itu, disadari ataupun tidak, adalah jiwa-jiwa oportunis. Well, oportunisme tidak selalu bermakna negatif. Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, opportunism itu berarti taking advantage of good opportunities, sometimes against the interest of others. Jadi, pada dasarnya oportunis adalah kecenderungan melakukan sesuatu untuk mengambil peluang yang memberikan keuntungan bagi dirinya, meskipun terkadang (terkadang lho, bukan selalu) bertentangan dengan kepentingan orang-orang selainnya. Muslim yang baik itu justru harus oportunis, bahkan harus jadi oportunis kelas berat. Saat oportunis-oportunis kelas bulu mengharapkan harta dan segala materi keduniaan, seorang muslim itu oportunismenya mengharapkan Allah. Bayangkan, yang diharapkan gak tanggung-tanggung, bro. Yang diharapkan adalah Tuhan Semesta Alam! Maharaja dari segala raja, yang Punya kerajaan langit dan bumi!
    Read the rest of this entry »
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 September 2012 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Terima Kasih


    Terima kasih…
    Kata itu tak cukup mewakili apa yang ingin kusampaikan pada kalian…
    Terima kasih…
    Adakah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan?
    Betapa bahagianya aku bisa mengenal kalian
    Betapa bersyukurnya aku bersama kalian
    Tangis dan tawa
    Suka dan duka
    Bahkan goresan luka
    Mengajarkanku arti sebuah hubungan
    Memahamkanku akan dinamika kehidupan
    Terima kasih teman,sahabat, saudaraku
    Di manapun kalian berada
    Menjadi apa pun kalian saat ini atau pun nanti
    Aku mengenal ukhuwah bersama kalian, teman dan sahabatku di ekonomika
    Aku menemukan semangat dalam diri kalian, ikhwah Gadjah Mada
    Aku menemukan saudara dalam diri kalian, keluarga keduaku, Etos Jogja
    Karena kehadiran kalian, langkahku kian tegar
    Terima kasih dari hati terdalamku
    Thank you so much
    Syukran jidan
    Doomo…Hontoni arigatou gozaimasu
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2011 in Umum

 

Tag: , , , , , , ,