RSS

Arsip Tag: peradaban

Begini Seharusnya Muslim

    Pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Basya Al-Qanuni, Sultan Turki, pernah diiklankan lowongan kerja untuk menjadi seorang imam Masjid Istambul. Syarat-syarat yang dicantumkan dalam iklan tersebut adalah:

    1. Menguasai bahasa Arab, Latin, Turki, dan Persia
    2. Menguasai Al-Qur’an, Injil, dan Taurat
    3. Menguasai Ilmu Syariat
    4. Menguasai Ilmu Alam, Matematika, dan mampu mengajarkannya
    5. Pandai menunggang kuda, bermain pedang, dan berperang
    6. Berpenampilan menarik
    7. Bersuara indah.

    Inilah format iklan untuk jabatan imam masjid, pada kurang lebih 400 tahun lalu. Kita mencatat bahwa syarat-syarat yang dicantumkan dalam iklan tersebut —walaupun sangat sulit, bahkan mustahil dipenuhi untuk ukuran sekarang— kala itu merupakan syarat yang biasa dan wajar. Islam ketika itu tengah mencapai masa puncak kejayaannya. Tak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum; tidak ada pemisahan antara ulama dan mujahid.

    Dalam catatan sejarah ini terlihat bahwa jabatan imam masjid adalah jabatan prestisius karena peranan yang harus dimainkan sangat penting dalam penyebaran dakwah. Bila masyarakat Islam kita umpamakan dengan satu tubuh, maka sel tubuh pertama yang menjadi inti kehidupannya adalah masjid. Perhatian kaum muslimin terhadap masjid selalu ada sepanjang sejarah keemasan Islam. Kekuatan ruhani yang terpancar dari masjid itulah kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan inilah yang membentuk akal dan perasaan mereka sepanjang masa.

    (dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku “Bagaimana Menyentuh Hati” karya Abbas As-Siisi, versi terjemahan dari “Ath-Thariq ila Al-Quluub” )

    __________________________________________________________
    Iseng menyalin catatan Facebook lama 😀

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2012 in Islam

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Menengok “Mentoring” Tempoh Doeloe

    “Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatthab, beliau mengirim para sahabat dalam berbagai ekspedisi untuk menyebarkan Islam melalui pengajaran Al Qur’an. Abu ad­ Darda’ tinggal di Damaskus beberapa waktu lamanya dan dapat membuat halaqah yang sangat masyhur dengan mahasiswa asuhannya melebihi 1.600 orang. Dengan membagi murid-murid ke dalam sepuluh kelompok, ia menugaskan seorang instruktur secara terpisah pada tiap kelompok dan melakukan inspeksi keliling dalam memantau kemajuan mereka. Bagi mereka yang telah lulus tingkat dasar, dapat mengikuti bimbingan langsung beliau agar murid yang lebih tinggi tingkatnya merasa lebih terhormat belajar bersama Abu ad-Darda’ dan berfungsi sebagai guru tingkat menengah.

    Metode yang sama dipraktikkan di tempat lain, Abu Raja’ al-Ataradi menyatakan bahwa Abu Musa al-Ash’ari membagikan murid-murid ke beberapa kelompok di dalam Masjid Basra, dalam bimbingannya yang hampir mencapai 300 orang.

    Di ibu kota, `Umar mengutus Yazid bin ‘Abdullah bin Qusait untuk mengajar AI-Qur’an di kalangan orang Badui, dan melantik Abu Sufyan sebagai inspektur untuk suku mereka agar mengetahui sejauh mana mereka sudah belajar.”

    Keren ya! Tidak heran jika kemudian Islam mampu memayungi hampir 2/3 dunia dan bersinar saat Eropa mengalami Zaman Kegelapan. Yuk, bergabung dengan MLM pahala yang murni syariah ini… caranya gimana? Membina!

    (Kisah di atas dikutip dengan penyesuaian yang diperlukan dari Sejarah Teks Al Quran, terjemahan dari The History of The Qur’anic Text karya Prof. Dr. M.M. al A’zami)

    _______________________________________________
    Iseng menyalin catatan Facebook yang pernah kubuat 🙂

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2012 in Islam

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Muslim Itu Harus Oportunis (Urgensi Membina versi “Egois”)

    Setelah beberapa tahun lalu menulis tentang urgensi membina untuk memenuhi tugas, sekarang rasanya ingin menceritakan pengalaman pribadi saja. Kalau bicara pada tataran ideal, sudah jelas bahwa membina merupakan tuntunan Rasulullah SAW. Namun, manusia itu, disadari ataupun tidak, adalah jiwa-jiwa oportunis. Well, oportunisme tidak selalu bermakna negatif. Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, opportunism itu berarti taking advantage of good opportunities, sometimes against the interest of others. Jadi, pada dasarnya oportunis adalah kecenderungan melakukan sesuatu untuk mengambil peluang yang memberikan keuntungan bagi dirinya, meskipun terkadang (terkadang lho, bukan selalu) bertentangan dengan kepentingan orang-orang selainnya. Muslim yang baik itu justru harus oportunis, bahkan harus jadi oportunis kelas berat. Saat oportunis-oportunis kelas bulu mengharapkan harta dan segala materi keduniaan, seorang muslim itu oportunismenya mengharapkan Allah. Bayangkan, yang diharapkan gak tanggung-tanggung, bro. Yang diharapkan adalah Tuhan Semesta Alam! Maharaja dari segala raja, yang Punya kerajaan langit dan bumi!
    Read the rest of this entry »
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 September 2012 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Arsitek Peradaban:Hakikat Penciptaan yang Terlupakan

    Arsitek Peradaban adalah salah satu judul buku yang ditulis oleh Anis Matta. Membaca buku Anis Matta selalu membuat saya memutar otak lebih keras,menyisihkan waktu lebih banyak, dan mengerahkan energi lebih besar karena harus membaca berulang-ulang. Kata-katanya memang tak secara eksplisit menggambarkan makna sesungguhnya. Bagi saya yang memang tidak terlalu menggemari buku-buku dengan bahasa berat, memang agak kesulitan memahami alur pemikiran penulis. Akan tetapi, ada beberapa hal yang bisa saya pahami dari tulisan beliau.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2011 in Umum

 

Tag: , , ,