RSS

Arsip Tag: anak-anak

The Unforgettable #2: Alah Bisa Karena Usaha

    Kuceritakan lagi kisah anak lelaki inspiratorku. Cerita ini masih menyambung kehidupannya yang harus dilalui dengan meraba-raba, bersusah payah mengenggam secercah cahaya.

    Anak lelaki itu masih sibuk saat kujumpai pada suatu hari. Di tangannya ada busi sepeda motor bekas. Di sekitarnya berserakan berbagai peralatan: paku, palu, gergaji besi, tali raffia, dan karet pentil. Kubiarkan ia asyik dengan ‘mainannya’. Dia memang masih anak-anak. Bermain tetap menjadi kesukaannya. Setelah beberapa hari, busi bekas itu sudah berubah rupa. Dia tunjukkan padaku dengan senyum bangga, “Petasanku sudah jadi.” Oh, rupanya dia memang sedang menciptakan mainan. Busi bekas itu ia alihfungsikan. Dia peragakan padaku bagaimana memainkannya. Diambilnya beberapa batang korek api, lalu ia sisir kepala koreknya hingga bubuk-bubuk itu memenuhi ruang dalam busi. Diatas bubuk itu ia selipkan secuil kertas yang berasal dari sisi samping bungkus koreknya (yang kita gesek untuk menyalakan korek). Busi itu ditutup dengan sekrup. Dia mengambil ancang-ancang untuk melempar busi itu ke jalan aspal depan rumah. Lalu… DUAR!!! Suara ledakan petasan pun terdengar. Beberapa hari kemudian ia kembali memamerkan mainan barunya. Ia membopong sebatang bambu utuh. Mau dibuat apa? “Long bumbung,” jawabnya. Oh, lagi-lagi harus geleng kepala. Dasar anak lelaki!

    Suatu hari ia memamerkan padaku handphone barunya. HP bekas sebenarnya, model yang sangat jadul, bermerk Ericson (ini HP edisi sebelum Ericson diakuisisi Sony lalu berubah jadi Sony Ericson). Penasaran, bagaimana dia bisa memakai alat itu? Sebelumnya dia memang sering bermain dengan ponselku yang bermerk S***sung jadul. Dia bisa mengoperasikannya dengan menggunakan kode angka. Misal mau menulis SMS, maka dia hanya perlu menekan tombol menu-2-1 lalu menulis pesannya. Pun jika ingin masuk ke menu-menu lain, kode angkalah yang ia perlukan. Ternyata ponselnya itu juga bisa dioperasikan dengan cara demikian. Maka mulailah ia memintaku memberitahu urutan-urutan menu dalam ponselnya. Dalam waktu singkat, ia hafal semuanya. Semenjak itu, tak heran jika waktu-waktu tertentu dia mengirimiku pesan singkat, sekedar iseng atau memang ada yang ingin ia sampaikan. Bagaimana ia tahu yang mana nomer ponselku di phonebooknya? Simpel. Dia tidak tahu. Ia menghafalkan nomor telepon banyak orang, bahkan nomor-nomor yang ia dengar di radio. Tak heran jika kemudian beberapa tetangga kadang bertanya padanya nomor tempat ini atau nomor stasiun radio tertentu. Daya ingatnya cukup membuatku terkesima.

    Setiap hari ia memberiku kejutan-kejutan baru. Setiap berjumpa selalu ada saja yang ia kerjakan. Ia tunjukkan padaku bahwa ketidaksempurnaan indera bukanlah penghalang untuk berkarya. Dari tangannya telah banyak yang dihasilkan. Karya-karya kecil yang menunjukkan betapa istimewanya ia. Bahkan sampai kini, di rumahnya dan rumah orang-orang di sekitarnya, berbagai karyanya masih setia menanti usia. Semoga menjadi amal jariyah baginya.

    …bersambung…
    _____________________________________________________________________________________
    A tribute to my dear little one.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Januari 2013 in Baiti Jannati, Umum

 

Tag: , , , , , , ,

The Unforgettable #1: Jawaban Sederhana

pendar cahaya

    Suatu hari kulihat anak lelaki belasan tahun duduk berjongkok di teras sebuah rumah. Tangan kanannya mengenggam sehelai kain bekas kaos yang tak dipakai, sedang tangan kirinya memegang sebuah botol. Di depannya berdiri sebuah motor China hitam. Sesekali ia semprotkan cairan dalam botol itu ke badan motor, lalu dengan hati-hati ia menggosok-gosoknya dengan kain yang ia bawa. Oh, rupanya ia sedang mengelap motor dengan cairan silikon supaya motornya terlihat lebih mengkilap.

    Di hari yang lain, kulihat ia memegang gergaji dan bilah bambu panjang. Jarinya meraba-raba tanda yang ia buat di bilah bambu, lalu dengan perlahan ia menggesekkan gergaji itu hingga sang bilah pun terpotong. Bilah itu kemudian ia belah lagi menggunakan parang menjadi bilah-bilah kecil. Tangannya dengan terampil mengikat bilah-bilah itu dengan karet hingga berbentuk bujur sangkar. Kali ini rupanya ia sedang membuat sebuah kandang jangkrik.

    Pada perjumpaan yang lain lagi ia terlihat sedang mendorong sepeda anak-anak beroda tiga. Di atas sepeda itu duduk seorang kanak-kanak, sepupunya. Anak lelaki itu tertawa riang, dengan senangnya ia menjadi tenaga pendorong sepeda agar bisa meluncur di jalan.

    Kesempatan yang lain aku menyaksikannya sedang khusyuk mendengarkan siaran radio. Diam-diam aku ikut mendengarkan. Ternyata sedang ada bincang-bincang tentang kesehatan di radio itu, menghadirkan seorang tabib pengobatan alternatif. Wajah anak lelaki itu sangat berbeda dari biasanya. Dia takzim, tampak sangat serius dan sesekali mengangguk seolah memberi tanda bahwa ia baru saja memahami hal baru.

    Dalam setiap perjumpaan itu, aku bertanya padanya. Mengapa ia berbuat demikian? Jawaban-jawabannya yang sederhana mampu menggetarkan hatiku.

    “Biar motornya jadi kelihatan bagus buat bapak kerja,” jawabnya sambil mengelap motor.

    “Saya mau memelihara jangkrik, jadi harus buat kandangnya. Bapak sudah capek kerja, jadi saya buat sendiri aja,” tuturnya polos.

    “Cuma dia teman main saya, teman-teman seusia saya pada sekolah,” ada gurat sedih di wajahnya.

    “Saya kagum sama tabibnya. Nanti kalau saya sudah sembuh, saya juga mau jadi tabib, biar bisa nolong orang miskin yang sakit,” ia tersenyum penuh harap.

    Usai bertemu denganku, ia beranjak pergi. Langkah kakinya terseret, pelan dan hati-hati. Sesekali tangannya meraba mencari pegangan. Aku memandangnya penuh iba.

    Apa yang dilakukannya memang hal biasa. Biasa, bagi anak normal dengan lima panca indera. Itulah mengapa kusebut dia luar biasa. Anak lelaki itu telah kehilangan penglihatannya. Ia buta sejak berusia delapan tahun. Dalam kegelapan dunianya, ia masih mampu memancarkan cahaya. Di mata orang, mungkin dia hanya anak kecil malang. Bagiku, dialah inspirator sejati.

    ____________________________________________________________________________________
    A tribute to my dear little one.
 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Januari 2013 in Baiti Jannati, Umum

 

Tag: , , , , ,

Mutiara Tanah Karst

    Foto di atas diambil saat perpisahan kelompok KKNku dengan anak-anak TPA Pule Gundes I dan II Agustus tahun 2011 kemarin. Sudah setahun berlalu sejak aku terakhir melihat mereka. Lebaran tahun kemarin tepatnya. Beberapa waktu lalu sebuah sms dari nomor tak kukenal masuk menyapa, “Apa kabar mbak ika imutz?”. Haha, hanya ada sedikit orang yang memanggilku seperti itu. Mereka adalah salah satunya. “Kapan ke Pule lagi?” itu yang sering mereka tanyakan saat kami menjalin komunikasi. “Kangen”, kata itu juga selalu hadir. “Kapan-kapan, ya,” atau “InsyaAllah kalau ada kesempatan,” jawabku biasanya. Aku tahu mereka kecewa mendengarnya. Ah, andai mereka tahu… Betapa pun inginnya aku bertemu mereka, aku tak bisa menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kutepati.

    Kilas Balik
    Pertemuanku pertama dengan mereka terjadi saat menunaikan kewajiban dari kampus: KKN-PPM. Bersama 21 orang teman lainnya, kami tergabung dalam kelompok “KKN PPM UGM Unit 94 Tepus Gunung Kidul Tahun 2011”. Read the rest of this entry »

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 3 September 2012 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , ,