RSS

Arsip Tag: amal

A Necessity (Called Death)


    Life is not a choice but a necessity. So, if life is a necessity then death becomes a necessity, too. It’s bound to happen, like or not, young or old, woman or man, all people are going to meet their death someday.

    But, those who live sometimes can’t accept the necessity of a death. They are not prepared and can’t accept it happening to them or their love ones. But… Read the rest of this entry »

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Oktober 2013 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , , ,

The Unforgettable #2: Alah Bisa Karena Usaha

    Kuceritakan lagi kisah anak lelaki inspiratorku. Cerita ini masih menyambung kehidupannya yang harus dilalui dengan meraba-raba, bersusah payah mengenggam secercah cahaya.

    Anak lelaki itu masih sibuk saat kujumpai pada suatu hari. Di tangannya ada busi sepeda motor bekas. Di sekitarnya berserakan berbagai peralatan: paku, palu, gergaji besi, tali raffia, dan karet pentil. Kubiarkan ia asyik dengan ‘mainannya’. Dia memang masih anak-anak. Bermain tetap menjadi kesukaannya. Setelah beberapa hari, busi bekas itu sudah berubah rupa. Dia tunjukkan padaku dengan senyum bangga, “Petasanku sudah jadi.” Oh, rupanya dia memang sedang menciptakan mainan. Busi bekas itu ia alihfungsikan. Dia peragakan padaku bagaimana memainkannya. Diambilnya beberapa batang korek api, lalu ia sisir kepala koreknya hingga bubuk-bubuk itu memenuhi ruang dalam busi. Diatas bubuk itu ia selipkan secuil kertas yang berasal dari sisi samping bungkus koreknya (yang kita gesek untuk menyalakan korek). Busi itu ditutup dengan sekrup. Dia mengambil ancang-ancang untuk melempar busi itu ke jalan aspal depan rumah. Lalu… DUAR!!! Suara ledakan petasan pun terdengar. Beberapa hari kemudian ia kembali memamerkan mainan barunya. Ia membopong sebatang bambu utuh. Mau dibuat apa? “Long bumbung,” jawabnya. Oh, lagi-lagi harus geleng kepala. Dasar anak lelaki!

    Suatu hari ia memamerkan padaku handphone barunya. HP bekas sebenarnya, model yang sangat jadul, bermerk Ericson (ini HP edisi sebelum Ericson diakuisisi Sony lalu berubah jadi Sony Ericson). Penasaran, bagaimana dia bisa memakai alat itu? Sebelumnya dia memang sering bermain dengan ponselku yang bermerk S***sung jadul. Dia bisa mengoperasikannya dengan menggunakan kode angka. Misal mau menulis SMS, maka dia hanya perlu menekan tombol menu-2-1 lalu menulis pesannya. Pun jika ingin masuk ke menu-menu lain, kode angkalah yang ia perlukan. Ternyata ponselnya itu juga bisa dioperasikan dengan cara demikian. Maka mulailah ia memintaku memberitahu urutan-urutan menu dalam ponselnya. Dalam waktu singkat, ia hafal semuanya. Semenjak itu, tak heran jika waktu-waktu tertentu dia mengirimiku pesan singkat, sekedar iseng atau memang ada yang ingin ia sampaikan. Bagaimana ia tahu yang mana nomer ponselku di phonebooknya? Simpel. Dia tidak tahu. Ia menghafalkan nomor telepon banyak orang, bahkan nomor-nomor yang ia dengar di radio. Tak heran jika kemudian beberapa tetangga kadang bertanya padanya nomor tempat ini atau nomor stasiun radio tertentu. Daya ingatnya cukup membuatku terkesima.

    Setiap hari ia memberiku kejutan-kejutan baru. Setiap berjumpa selalu ada saja yang ia kerjakan. Ia tunjukkan padaku bahwa ketidaksempurnaan indera bukanlah penghalang untuk berkarya. Dari tangannya telah banyak yang dihasilkan. Karya-karya kecil yang menunjukkan betapa istimewanya ia. Bahkan sampai kini, di rumahnya dan rumah orang-orang di sekitarnya, berbagai karyanya masih setia menanti usia. Semoga menjadi amal jariyah baginya.

    …bersambung…
    _____________________________________________________________________________________
    A tribute to my dear little one.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Januari 2013 in Baiti Jannati, Umum

 

Tag: , , , , , , ,

Pria dan Ongkos Masuk

    Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham mencoba memasuki tempat mandi umum. Si penjaga menghentikannya dan meminta ongkos masuk. Ibrahim tertegun dan mengatakan bahwa dirinya tak punya uang.

    Si penjaga menjawab, “Kalau kau tidak punya uang, kau tidak boleh masuk”. Ibrahim memekik dan tersungkur ke tanah sambil terisak sedih. Seorang pejalan kaki berhenti untuk menghiburnya. Seseorang menawarinya uang agar ia dapat masuk tempat mandi umum itu.

    Ibrahim bin Adham berkata, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk. Ketika penjaga itu meminta ongkos masuk aku teringat sesuatu yang lalu membuatku menangis. Jika aku tidak diizinkan masuk ke tempat mandi umum di dunia ini kecuali jika aku membayar ongkos, apa ada harapan bagiku untuk diperbolehkan masuk surga? Apa jadinya aku kalau mereka menuntut ‘Amal baik apa yang kau bawa? Apa yang sudah kau perbuat hingga kau layak diizinkan masuk surga?’ Persis seperti aku ditolak masuk tempat mandi ini karena aku tidak bisa membayar, sudah pasti aku akan ditolak masuk surga jika aku tidak punya amal baik. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”

    Semua yang mendengarkan pun merenungkan hidup dan amalan mereka sendiri dan mereka mulai menangis bersama Ibrahim bin Adham.

    _______________________________________________________________________________________
    Sebuah cerita dalam buku “Love is The Wine” karya Syeikh Muzaffer Ozak yang dinukil oleh Zabrina A. Bakar dalam bukunya “Satu Tiket ke Surga”.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 November 2012 in Islam

 

Tag: , , , , , ,

Memories #2: Inspirasi

    Sekedar mereview ulang hidupku. Seorang teman pernah kaget melihat sticky notes di dekstop netbookku. Penuh. Sampai-sampai wallpaper dekstopnya nggak keliahatan sama sekali. Sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu untuk mencatat kata-kata yang menurutku bagus dan menginspirasi. Bahkan aku punya buku khusus untuk mendokumentasikan catatan-catatan itu. Dari sekian banyak yang pernah kunukil, ada beberapa kalimat yang menjadi peganganku hingga sekarang.
    Read the rest of this entry »
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Oktober 2012 in Baiti Jannati, Umum

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Muslim Itu Harus Oportunis (Urgensi Membina versi “Egois”)

    Setelah beberapa tahun lalu menulis tentang urgensi membina untuk memenuhi tugas, sekarang rasanya ingin menceritakan pengalaman pribadi saja. Kalau bicara pada tataran ideal, sudah jelas bahwa membina merupakan tuntunan Rasulullah SAW. Namun, manusia itu, disadari ataupun tidak, adalah jiwa-jiwa oportunis. Well, oportunisme tidak selalu bermakna negatif. Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, opportunism itu berarti taking advantage of good opportunities, sometimes against the interest of others. Jadi, pada dasarnya oportunis adalah kecenderungan melakukan sesuatu untuk mengambil peluang yang memberikan keuntungan bagi dirinya, meskipun terkadang (terkadang lho, bukan selalu) bertentangan dengan kepentingan orang-orang selainnya. Muslim yang baik itu justru harus oportunis, bahkan harus jadi oportunis kelas berat. Saat oportunis-oportunis kelas bulu mengharapkan harta dan segala materi keduniaan, seorang muslim itu oportunismenya mengharapkan Allah. Bayangkan, yang diharapkan gak tanggung-tanggung, bro. Yang diharapkan adalah Tuhan Semesta Alam! Maharaja dari segala raja, yang Punya kerajaan langit dan bumi!
    Read the rest of this entry »
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 September 2012 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,