RSS

Indonesia oh Indonesia

Untukmu Negeriku…

Beberapa waktu lalu aku membuka video HUT Indonesia di situs YouTube.Disitu juga dicantumkan komentar-komentar yang menanggapi video tersebut. Beberapa berbahasa Inggris,kebanyakan berbahasa Malay. Tebak apa isinya? Hampir semua komentar itu menghina Indonesia. Secara garis besar,pernyataan mereka bisa dirangkum seperti ini : “Indonesia kaya?Omong kosong besar. Kalau mereka kaya mereka tak akan mengemis-ngemis di negeri orang. Nyatanya banyak yang jadi pekerja rendahan. Kosa kata bahasa mereka pun banyak yang berasal dari bahasa lain. Indonesia itu negara terbelakang. Dan negara yang terbelakang tak akan pernah memiliki gedung tertinggi di dunia,perusahaan mobil nasional,dsb.Dimana otak kalian orang Indonesia? Dengan keadaan negara kalian seperti itu kalian masih bisa mengatakan negara kalian negara kaya?Benar-benar kalian orang yang terlalu banyak berkhayal!”
Aku marah,sedih,frustasi ketika membacanya. Marah karena tanah airku direndahkan,sedih karena memang begitu kenyataanya :kemiskinan,pengangguran masih mencekik kehidupan rakyat,dan frustasi karena tak tahu harus berbuat apa. Aku bukan seorang nasionalis yang fanatik,tapi siapa yang tidak geram mengetahui negaranya,the motherland,dicaci oleh orang-orang yang bahkan tak tahu fakta yang sebenarnya. Mungkin saja mereka tahu betapa melimpah kekayaan yang terkandung di dalam bumi dan laut Indonesia,tapi tahukah mereka bahwa kekayaan itu terus dirongrong oleh negeri-negeri asing yang salah satunya mungkin adalah negara mereka? Meskipun tahu,mungkin mereka akan diam saja karena toh mereka mendapat keuntungan darinya.
Akan tetapi,tidak bijak bagi kita jika terus-menerus memposisikan diri sebagai korban. Seorang korban akan selalu meminta belas kasihan,tapi kita tidak boleh seperti itu. Jangan tiru Yahudi Israel yang memanfaatkan tragedi Holocaust (kalau itu benar-benar ada) untuk menarik simpati dunia dan untuk mendapatkan sejumlah ”tebusan” dari negara yang dianggap ”bersalah”. Memang benar 350 tahun dijajah Belanda bukanlah waktu yang singkat. Bahkan terlalu panjang untuk menanamkan sebuah stigma,kepribadian yang kerdil dan mental yang lemah. Tapi 61 tahun juga bukanlah waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu sebuah negara seperti Jepang bahkan telah berhasil menjadi Macan Asia setelah negerinya porak-poranda akibat Perang dunia II.
Apa bedanya Indonesia dengan Jepang? Padahal saat itu secara fisik,orang-orang Jepang kalah jauh dibandingkan orang-orang Indonesia. Negaranya pun tak memiliki SDA yang melimpah. Bahkan mereka justru berlimpah bencana : gempa bumi,taifun,banjir. Tapi justru karena keadaan sulit itulah mereka terbiasa untuk bekerja keras,mereka terdidik untuk tidak pernah menyerah dan selalu menghargai ilmu. Dibawah penjajahan Belanda,rakyat Indonesia memang hidup miskin,tapi toh mereka masih bisa makan meski hanya ubi atau nasi jagung.Kita,orang-orang Indonesia,telah terbiasa untuk bersikap nrima ing pandum. Itu tidak salah. Itu adalah ungkapan yang dikeluarkan oleh leluhur orang Jawa agar mereka tetap mensyukuri apa pun yang mereka miliki. Tapi ungkapan itu kemudian disalahgunakan.Nrima ing pandum bukan lagi berarti bersyukur pada pemberian Yang Maha Kuasa,tapi berarti menyerah begitu saja,pasrah tanpa berusaha dulu.
Mereka,atau bahkan juga kita, sering mengukur kekayaan dari berapa banyak materi yang dimiliki.Padahal banyaknya materi tidak menjamin kita bisa hidup bahagia,tentram dan tenang. Seperti yang diungkapkan oleh Sayyidina Ali ra, “ilmu yang kalian miliki akan menjaga kalian,sedangkan harta kalian tidak mampu melindungi,justru menuntut perlindungan dari kalian. Ilmu akan membuat hati tenang,,tapi harta akan membuat kalian terus gelisah.”

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: