RSS

A Restart

background-2.jpg

Mengunjungi kembali blog lama yang terlantar. Posting terakhir 25 Oktober 2013. Ternyata sudah lebih dari tiga tahun yang lalu. Wow, gumamku pada diri sendiri. Kemana saja ya aku sampai selama itu? Apa yang kulakukan dalam rentang waktu itu hingga tak menyempatkan menulis disini?

Bismillah…

Semoga setelah ini bisa kembali produktif menulis.

Klaten, 24 Februari 2017
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Februari 2017 in Umum

 

A Necessity (Called Death)


    Life is not a choice but a necessity. So, if life is a necessity then death becomes a necessity, too. It’s bound to happen, like or not, young or old, woman or man, all people are going to meet their death someday.

    But, those who live sometimes can’t accept the necessity of a death. They are not prepared and can’t accept it happening to them or their love ones. But… Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Oktober 2013 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , , ,

Memories #4: Semanggi (Best Friends, Best Sisters)

Semanggi Diary

Saat menulis ini, hujan sedang turun dengan derasnya. Alhamdulillah, setelah seharian didera panas yang menguras keringat Allah memberikan berkah kesejukan melalui air langit ini.

Entah kenapa, hujan selalu mengingatkanku pada tiga orang teman terbaikku. Mereka bukan sekedar teman, tapi mereka adalah saudaraku. Ohya, circle kami ini secara sepihak kunamai Semanggi. Kenapa semanggi? Karena aku suka filosofinya dan karena kami berjumlah empat orang. Well, semanggi pada umumnya punya tiga helai daun, yang masing-masingnya melambangkan kepercayaan, harapan, dan cinta. Secara utuh, semangi berdaun tiga melambangkan kebahagiaan. Sedangkan semanggi berdaun empat melambangkan keberuntungan karena ia hanya bisa ditemukan satu di antara seribu. Kupikir itu benar-benar cocok untuk menggambarkan persaudaraan kami berempat.

Kami tak saling mengenal saat pertama kali menjejakkan kaki di kampus tercinta. Dua orang dari tanah Borneo, seorang dari dataran tinggi karst DIY, dan aku sendiri dari salah satu perbatasan Jawa Tengah. Pertemuan kami secara utuh berempat adalah melalui sebuah majelis ilmu yang disebut AAI. Saat pertama kali bertemu, “tak pernah mengira bahwa kita akan sedekat ini”, seperti tulis seorang dari kami di kemudian hari. Dari situ kami semakin sering dipertemukan. “Subhanallah ya, kita bertemu di forum-forum untuk mengingat Allah,” tulis saudariku yang lainnya. Waktu bergulir hingga akhirnya mengamanahkan kami berlabuh di organisasi yang berbeda, dua orang di JMME FEB dan dua orang di SEF UGM. Walaupun pada kenyataannya kami berempat sering beraktivitas bersama mengingat kedekatan kedua organisasi tersebut, dan karena bagaimanapun juga kami tetap merupakan anggota JMME hingga kami lulus dari FEB.

Ah, kembali lagi ke topik hujan. Hujan itu membawa kembali kenangan-kenangan yang kulalui bersama mereka, baik kenangan bahagia maupun yang sedih. Berapa kali kami berlomba dengan hujan untuk sampai di tempat makan? Berapa kali kami harus bergulat dengan hujan untuk mencapai lokasi kegiatan? Atau ketika bersama-sama hunting buku di bookfair saat gerimis menjelang? Ah, atau ketika hujan menjadi saksi saat aku mengantarkan kepergian salah satu saudariku untuk kembali ke tanah seberang? Hujan… pernah kutuliskan juga tentangnya di buku harian salah satu dari mereka.

Buku harian adalah kenangan yang lain tentang mereka. Kami berempat pernah punya buku harian bersama, namun baru beberapa kali berputar, ia hilang dan baru diketemukan sejenak sebelum kami berpisah beberapa bulan silam. Walau demikian, kurang dari dua bulan sebelum perpisahan itu datang, kami menghidupkan kembali program buku harian bersama. Jika dulu satu buku dipakai untuk empat orang, kali ini kami punya buku masing-masing. Buku itu saling dipertukarkan di antara kami. Masih adakah buku harian milik kalian, saudariku? Aku masih menyimpan milikku dan berharap suatu saat kukirimkan pada kalian untuk menagih cerita yang kalian simpan.

Sekarang kita menjalani kehidupan di tempat yang berbeda, bersama orang-orang yang berbeda pula. Namun, semoga Allah mengabulkan doa kita dulu: semoga kita dipertemukan kembali di surga-Nya.

Untuk menutup tulisan ini, kutuliskan lagu favoritku untuk kalian.

    Thank you ~ Bokutachi kara kimi e ~

Thank you ~ From us to you

    by Hey!Say!Jump

Sayonara wo suru mae ni
Before we bid goodbye
Bokutachi kara kimi e
From us to you
Kansha no kimochi ni ma gokoro wo komete
From the bottom of our hearts, we’d like to send
Todoketai yo, kono uta
These feelings of gratefulness, through this song

Kyou, kimi to bokutachi wa
Today, you and us
Ikutsu yume wo mita darou
How many dreams you’ve seen?
Kazu kazu no bamen irunna omoi de
I have many settings, and many thoughts
Zenbu hikari kagayaku with you
All of them will shine with you

Kitto minna no egao ya kizuna ga
Surely, everyone’s smile and this bond
Asu kara no hagemi ni naru yo
Will become tomorrow’s courage

Say goodbye kyou no hi no minna ni
Say goodbye to your today’s sun
Wakare wa mata au yakusokusa
Farewell is a promise that we’ll meet again
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
The moment when our heart become one
Kasareru tabi ni ai ga umareru
On this long journey, love was born

Say goodbye mata tsugu aerukara
Say goodbye and we’ll meet again
Wakare wa kimi omou jikan sa
Farewell is the time when I think about you
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Our hearts will always be one
Bokutachi wa tsunagari au
We are all connected to each other

Thank you for your love

Yume no tsuzuki wa taeru koto naku
Keep dreaming is a thing that must always continue
Doko made datte afurete ikuyo
Even when you go nowhere

Say goodbye kyou no hi no minna ni
Say good bye to your today’s sun
Wakare wa mata au yakusokusa
Farewell is a promise that we’ll meet again
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
The moments when our heart become one
Kasareru tabi ni ai ga umareru
On the long journey, love was born

Say goodbye mata tsugu aerukara
Say goodbye, and we’ll meet again
Wakare wa kimi omou jikan sa
Farewell is the time when I think about you
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Our hearts will always be one
Bokutachi wa tsunagari au
We all are connected to each other

Thank you for your love

(lyric credit to denisaroseno.blogspot.com)

________________________________________________________________
Dedicated to my Semanggi sisters 🙂

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Oktober 2013 in Baiti Jannati

 

Tag: , , , , , , , , , ,

The Unforgettable #3: “Final”

adek
This world could no longer hold you
Yet, along with morning shine I feel you
Through the breeze I hear you
See, I still keep our promise
Moving forward and stay strong
See, I’ve stopped blaming myself
Loving what you left behind

I admired you, dear
For never stop struggling
For being strong against your malady
For choosing to not suffer despite your pain
For showing love and smiles
And for being you
Until the last of your breath

But for now,
Farewell, dear brother
until we meet again (insyaAllah)
And forgive me
And thank you
For everything

I love you

____________________________________________________
Ya Allah, lapangkanlah dan terangilah kubur adikku.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Oktober 2013 in Baiti Jannati

 

Tag:

“Satu Tiket ke Surga”

Sedang membaca sebuah e-book yang menarik. Judulnya Satu Tiket ke Surga, versi terjemahan bahasa Indonesia dari buku Life is an Open Secret karya Zabrina A. Bakar. Awalnya tidak terlalu tertarik, hanya iseng untuk sekadar mengisi waktu luang. Eh, begitu baca malah tidak bisa berhenti. Hehe. Baru tahu juga kalau buku ini termasuk buku Best Seller di luar negeri sana. Hmm…

cover satu tiket

Serius, buku ini sangat bagus dan menarik. Bahasanya sederhana dan terkesan sangat akrab, tapi maknanya luar biasa. Terkesan lebai ya? Hmm, habis baru kali ini, setelah bertahun-tahun, aku menemukan lagi buku yang bisa menawan hatiku sedemikian rupa setelah 7 Habbits of Highly Effective Teen-nya Sean Covey. Lebih keren lagi karena bergenre motivasi Islami, jadi setiap hikmah yang coba digali selalu dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, termasuk dua pedoman utama muslim: Al Qur’an dan Hadits, bukan sekadar filsafat pada umumnya.

Buku ini juga asyik dan menghibur. Kenapa? Karena saat membacanya tanpa sadar aku bisa tertawa sendiri, hehe. Cerita-cerita yang ditampilkan dalam buku ini sebagian besar adalah peristiwa dalam kehidupan sehari-hari kita yang terkesan sepele. Mungkin jarang terpikirkan malah. Tapi, sang penulis atau lebih dikenal dengan Sis Zabrina, bisa membuat hal sepele itu menjadi perenungan yang dalam. Beliau (I really respect her) mampu mengajak pembaca untuk memahami firman Allah SWT dan hadits Rasulullah SAW dari sudut pandang baru. Terkadang ketika mencoba menggali pelajaran dari suatu hal Sis Zabrina ini juga mengajak pembaca ke dalam imajinasinya yang unik, kadang ‘konyol’ tapi sangat mengena.

Sejauh ini aku baru sampai di halaman 104 dari total 261 halaman. Beberapa hal dari buku ini yang sampai sekarang bergaung di pikiranku misalnya di bagian ketika Sis Zabrina bertanya “Maukah kamu menikah dengan dirimu?” Would you marry yourself? Sebuah pertanyaan aneh, tapi setelah membaca ulasannya, aku jadi ngeh. Ini kata-kata ampuh untuk muhasabah, mengevaluasi diri. Selama ini mungkin kita terlalu sibuk menetapkan standar-standar untuk orang lain, tapi justru lupa untuk menerapkanya pada diri sendiri. Jika kamu ditanya, maukah kamu menikah dengan dirimu, apa jawabanmu? Jika jawabanmu mantap Ya, maka Alhamdulillah dan istiqomahlah, tapi jika masih ragu menjawab “Mungkin” atau justru ekstremnya menjawab “Tidak!”, mari sama-sama berbenah dan memperbaiki diri. Hamasah!

Btw, aku mendapatkan e-book ini sepertinya hasil searching dan gratis, hehe. Jadi, teman kalau ada yang mau ikut baca, tuliskan saja alamat emailmu, insyaAllah aku kirimkan filenya. Mari belajar bersama ^_^

NOTE: Mohon maaf, per Agustus 2014 sudah tidak bisa lagi mengirim file e-book ini karena file-nya berbentuk .exe, dan kebijakan baru Google tidak memperbolehkan attachment e-mail dalam bentuk .exe. Maaf.

 
27 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Juni 2013 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , ,

A Piece of Mind

Friendship is learning, I heard someone said. I think now I understand what it means. Friendship need you to be an open person, right? By trusting and accepting other people come into our life, even sometimes messing up our business, hehe. In friendship, there are times we fight or encourage each other. It means we will have to learn how to forgive and take care of others.

Friendship is indeed beautiful, but…

Islamic brotherhood is more than wonderful. It’s a miracle.

There is no need for blood or family relation to build it. Everything within it is sweet, no bitterness. You know why? Because ‘iman’ makes those bitternesses tasted sweet, miseries we feel as something we value and cherish. Every single moment in this life becomes meaningful. Every single event happened to us is precious. Every step we take makes us learn something. When you fell you won’t be scared, because there always are brothers and sisters ready to catch you and wake you up. Moreover, that kind of bond will never break as long as we hold on to the faith. It’s not only lasted in this world, but also longer, to the hereafter. ‘Forever’ do comes true in this bond.

That’s why wonderful is not enough to describe Islamic brotherhood.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in Islam, Umum

 

Tag: , , , , , , ,

Inilah Aku, Lalu…Siapa Kamu?

    “Aku petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.

    Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka ia pun berseru, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’

    Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?”

    –Hasan Al Banna–

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Januari 2013 in Umum

 

Tag: , , , , ,